Kamis, 15 November 2012

SEJARAH SELAPARANG


SEJARAH KERAJAAN SELAPARANG
A.    Berdirinya Selaparang dan Mumbul
Menjelang akan runtuhnya kerajaan Majapahit runtuh, di Lombok terdapat kerajaan-kerajaan kecil seperti : kerajaan Selaparang, kerajaan lombok langko, pejanggik, Parwa, Sokong, dan Bayan dan beberapa desa kecil lainnya: Pujut, Kedero, Batu Dendeng, Kuripan, Kentawang. Ketika Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke pulau Bali tahun 1343M diteruskan ke Lombok di bawah pimpinan Empu Nala untuk menaklukan Selaparang. Empu Nala kemudian memiliki keturunan-keturunan yang banyak memegang tmpuk pimpinan sebagai Raja di Pulau Lombok.
Setelah ditaklukan, Gajah Mada datang ke Selaparang yang sebelumnya dikenal dengan nama Selapawis, Sela artiya batu dan Pawis berarti ditaklukan jadi Selapawis berarti batu yang ditaklukan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa prasasti tentang ppernah datangnya Patih Gajah Mada di Lombok meskipun Kerajaan Selaparang merupakan Kerajaan yang berdiri sendiri akan tetapi masih bernaung di bawah Kerajaan Majapahit. Kedatangan gajah Mada ke lombok ditulis dalam sebuah memori yang disebut Bencangah Pinan .
Sumber lain menyebutkan bahwa setelah kerajaan Lombok dihancurkan tentara Majapahit  , Raden Maspahit melarikan diri ke dalam hutan, Sekembalinya dari hutan mendirikan kerajaan bari di Batu Parang yang disebut Selaparang
 



Sejak kehancuran Selaparang Hindu, di Pulau Lombok timbul kerajaan kerajaan kecil, diantaranya kerajaan Mumbul yang berpusat di Labuhan Lombok Rajanya “Demung Mumbul atau Batara Mumbul atau Prabu Turunan” Prabu Turunan adalah adik dari Pangeran Kaesari, keturunan dari Tunggul Ametun, Raja Kediri yang terbunuh oleh Ken Arok pada tahun 1220. Dua tahun kemudian mengangkat dirinya menjadi Raja Singasari di Jawa. Demung Mumbul dipeerkirakan datang ke Lombok pada akhir abad ke XIII atau awal abad ke XIV sewaktu di Jawa terjadi pergolakan di Kerajaan Majapahit. Demung mumbul mendirikan kota di teluk labuhan lombok bersama para pengiringnya dan dimakamkan di sebuah bukit (sekarang Gunung Kayangan).







Dengan demikian silsilah Raja di Labuhan Lombok dapat digambarkan sebagai berikut:
Prabu Tunggul Ametung
Kaesari
k                                                                                 
Demung Mumbul
                                                                                   
                                                                                          
Prabu Indrajaya
 

                                                                                         
Raden Mas Panji Anom
 

                                                                                        
 

Raden Mas Panji Tilar Negara
Raden Mas PAnji
                                                      

Setelah mangkatnya Demung Mumbul maka naiklah puteranya Yang bernama Prabu Indrajaya ( Versi lain menyebutkan nama raja di Labuhan Lombok Prabu Rangkesari). Di Kerajaan Lombok terjadi pmberontakan yang dipimpin oleh oleh Demung Brangbantuh karena menuntut balas atas kematian adiknya Patih Sandubaya akan tetapi dapat dipatahkan. Atas nasehat Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda kerajaan Mumbul (  Labuan Lombok ) di pindakan ke Selaparang pada saat ini sedang berlangsung pemerintahan Sunnan Dalem yang memerintah tahun 1505-1545 Masehi.
Pemindahan pusat kerajaan ke Selaparang dengan alasan: Tingkat keamanan yang lebih tinggi dari serangan musuh karena terletak didataran yang tinggi sehingga mudah untuk mengamati          kapal yang datang dari Barat maupun Selatan, baik itu kapal para pedagang maupun kapal musuh yang akan menyerang ke Selaparang .
Setelah Prabu Indrajaya meninggal diganti oleh puteranya yang bernama Raden Mas Panji Anom yang Juga dikenal dengan Prabu Anom. Pada masa inilah awal masukknya Islam di Lombok. Prabu Anom mempunyai anak yang bernama Raden Mas Panji. Raden Mas Panji Tilar Negara Diseberangkan Ke Alas-Sumbawa. Dari sember Makassar (Kronik Goa Dan Tallo) menyebutkan bahwa seorang anak laki-laki Raja Selaparang “Mas Pamayan” menjadi Raja di Sumbawa yang dilantik pada tanggal 30 November 1648 Masehi.
B.     Daerah kekuasaan Selaparang
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Lombok seperti kerajaan Selaparang, , Kerajaan Lombok Langko, Pejanggik, Parwa, Sokong, dan Bayan dan beberapa desa kecil lainnya: Pujut, Kedero, Batu Dendeng, Kuripan, Kentawang. Merupaka kerajaaan-kerajaan kecil yang merdeka .
Pendapat lain: Raja-raja Selaparang yang disebut-sebut dalam tradisi sesuai dengan yang dimakamkan antara lain: (1) Raden Mas Pakenak,(2) Dewa Mraja Mas Pakel, (3) Raden Dipati Prakosa, (4) Batara Selaparang
 



            Dalam Babad Lombok disebutkan batas-batas wilayah kekuasaan meliputi:
1.      Sebelah utara berbatasan dengan Sokon dan Bayan
2.      Sebelah Selatan berbatasan dengan kokok belimbing.
3.      Sebelah barat berbatasan dengan Tegal Sampopo ke arah Utara sampai Denek Mingkar (Sebelah barat daerah ini ditemukan Sari Kuning).
4.      Bata timur tidak disebuutkan
Dengan demikiann wilayah Selaparang pada waktu itu sebagian besar Lombok Timur . Disebutkan pula bahwa Lombok dan Sumbawa ada dibawah kekuasaan Seorang Raja di Lombok.
C.    Hubungan Selaparang
Kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Sokng, Bayan, Langko, Kedaro, Parwa, Sarwadadi dan Pejanggik megakui Selaparang sebagai induk atau kakaknya. Hubungan diantara mereka penuh dengan persaudaraan, hidup rukun dan damai, tidak ada gesekan sehingga mereka tidak membutuhkan tentara Regular yang dipersenjatai, apabila situasi membutuhkan pertahanan rakyat siap bangkit membela negara. Pejabat yang mengurusi masalah pertahanan dan keamanan disebut Dipati. Dengan demikian, persekutuan masyarakat hukum yang tertinggi di Lombok telah ada sejak tahun 1543 Masehi.
Sebagai kerajaan yang kuat, Selaparang melakukan hubungan dengan kerajaan di Kalimantan. Hikayat Banjarmasin, menyebutkan “Seseorang bangsawan Banjar bernama Raden Subangsa pergi ke Selaparang mengawii seorang putri raja. Dari perkawinan tersebut terlahir Raden Mataram, setelah istrinya meninggal, Raden Subangsa kawin lagi dengan putri Selaparang di Sumbawa dan melairkan Raden Banten .
Selanjutnya tahun 1681 M Kerajaan Goa Menaklukan kerajaan-kerajaan di Sumbawa barat kemudian dipersatukan dengan kerajaan Selaparang. Keberhasilan Goa merebut Lombok dari Bali pada tahun 1640 m, maka proses Islamisasi semakin mantap. Dalam usaha mengembangkan pengaruhnya di Lombok, masing-masing kerajaan meningkatkan melalui perkawinan kedua belah pihak (Kerajaan Selaparang dan Goa ). Hal ini dapaat diketahui dari nama-nama gelar seperti pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, pemban Parwa sedangkan kerajaan kecil lainnya yang bersifat otonom rajanya disebut Datu seperti Datu Bayan, Langko, Sokong, Kuripan, Pujut dan lain-lainnya.
D.    Ancaman Gelgel dan Karang Asem
Kemajuan yang kerajaan Selaparang setelah masuknya Agama Islam menjadi hambatan bagii kerajaan Gelgel di Bali. Pada tahun 1520, Gelgel mencoba melakukan penyerangan tetapi tidak berhasil. Kemudian pada tahun 1530 Gelgel melakukan usaha secara damai dngan mengirimkan utusan yang dipimpin oleh Dankiang Niratha sambil memasukkan paaham baru berupa sinkretisme hindu Islam. Wallaupun tidak lama ajarannya telahh dapat mempengaruhhi beberapa pemimpin di Lombok yang belum lama masukk Islam. Keberhasilan Selaparang menghambat laju masukknya Kerajaan Gelgel karena mendapat perlindungan dari kerajaan Goa di Makassar.
Di tandatanganinya Perjanjian Bongaya di Kelungkung Bali tahun1667 yang berarti bahwa pulau Lombok dan Sumbawa dinyatakan lepas dari pengaruh Goa dan Tallo, maka kerajaan di Bali mencurahkan perhatiannya ke Mataram dengan mengirim ekspedisi tahun 1667 dan 1668 tetapi kedua investasi tersebut dapat di pukul mundur oleh Selaparang dengan bantuan dari prajurit Sumbawa. Kekalahan yang dialami oleh Gelgel tidak membuatnya putus asa.
Pada tahun 1690, Gelgel membuat pangkalan di Pagutan dan Pagesangan yang dikoordinasi oleh kerajaan Karangasem. Strateginya yaitu pengiriman utusan berupa pasukan pendahulu yanng beragama Islam yaitu Patih Arya Sudarsana (beragama Islam). Pattih Arya Sudarsana berhasil menyusup ke Selaparang sehingga terjadi konflik. Dalam peperangan tersebut, pasukan Arya Sudarsana berhasil di desak sampai Suradadi yaitu di Reban Talat tetapi Arya sudarsana tidak berhasil di tangkap. Peperangan inipun Selaparang mendapatkan bantuan dari Sumbawa di bawah pimpinan Amasa Samawa (1723-1725). Bekas prajurit Sumbawa itu sebagian menetap di Lombok dan merupakan nenek moyang dari penduduk desa Rempunng, Jantuk, Siren Rumbuk, Kembang Kerang Daya, Kuang Berora, Moyot dan Lainnya. Dan penduduk tersebut berbahasa Taliwang.
E.     Keruntuhan Selaparang
Terkalahkannya Goa oleh Belanda, Maka pada tanggal 18 November 1667 ditandatangani “Perjanjian Bongaya”, kemudian VOC mengusir kekuasaaan Goa di Lombok dan Sumbawa pada tahun 1673 Belanda memindahkan pusat kerajaan dari pulau Lombok ke Sumbawa untuk memusatkan kekuatan. Hal ini diketahui dari berita-berita tahun 1673 dan 1680 tentang pertanggungjawaban Raja Sumbawa atas daerah Lombok. Kemudian pada tahun 1674 Sumbawa menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya “Sumbawa harus melepaskan Selaparang”
Setelah Selaparag lepas dari Sumbawa, maka VOC menempatkan regent  dan pengawas. Ketiadak setujuan Selaparang terhadap VOC yang menempatkan regent dan pengawas menyebabkan pemberontakan Selaparang pada tanggal 16 Maret 1675. Untuk memadamkan pemberontakan tersebut VOC ke bawah Kapten Holsteiner berhasil mengalahkan Selaparang. Pada akhirnya pemimpin-pemimpin Selaparang yang masing-masing: Raden Abdi Wirasentana, Raden Kawisangir Koesing, dan Arya Boesing diperintahkan membayar 5.000 sampai 15.000 kayu sepang dalam jangka waktu 3 tahun
Kedatangan VOC ke Lombok, akhirnya sejak tahun 1691 Kerajaan Selaparang mengalami kemunduran. Karangasem Bali bersama Arya Banjar Getas berperang melawan raja-raja di Lombok. Pada tahun 1740, peperangan di Tanaq Beaq dimenangkan oleh Karangasem, maka tamatlah riwayat Kerajaan Selaparang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar